Sabtu, 04 Mei 2019

Selamat Berbahagia Kamu yang Melepaskanku Begitu Saja, Meski Saat Ini Saya Masih Cinta!

Dia datang, dan mengubah segala yg pernah kau katakan. Kau berbalik dan mulai melangkah pada jalanan yg berlainan arah. Kau lupa segala kata cinta yg pernah dg begitu mesra kau curahkan. 
segala perjuangan dan rasa sayangku seharusnya sudah memenuhi segala ruang di hatimu. Kau pergi disaat segala usaha dan cintaku masih deras mengalir dan menggebu-gebu untukmu.
Lalu,

Apalah arti dari sebuah ungkapan 'aku sayang kamu', jika yg tertinggal dari itu hanyalah sebuah luka yg tidak berkesudahan?

Satu-satunya yang bisa aku lakukan hanyalah berusaha melepas meski hatiku belum mampu sepenuhnya ikhlas.
Jika pada saatnya nanti kau membaca ini, percayalah, ada tetesan air mata yg menggenangi setiap kata demi kata yg aku tulis di atas meja ini. Kecewa, sedih, marah, gemetar, rasa tak percaya, patah hati, luka, semuanya bercampur menjadi satu.
Aku masih selalu terjaga pada malam-malam hariku, sebab aku takut, tidurku membawa aku pada mimpi yg lebih buruk dari sekedar ini. Aku bahkan sempat berharap tidak lagi diberi kesempatan untuk bisa melihat dunia. Karena barangkali itu lebih baik daripada saat membuka mata, aku disadarkan dg kenyataan bahwa dihatimu aku bukan siapa-siapa.
Semoga ini cukup untuk menjelaskan seperti apa aku saat ditinggalkan olehmu ketika hatiku meyakini sedang berada dlm puncak mencintaimu.
Lalu bagaimana? 
BAGAIMWNA RASANYA mengingkari janji setelah pernah begitu meyakinkan?

Bagaimana rasanya meninggalkan seseorang yang amat teramat menyayangimu?

Bagaimana rasanya menyakiti hati dengan tiba-tiba saja pergi?

Bagaimana rasanya memperlakukan seseorang dengan amat sangat jahat sedangkan kau tahu ia selalu memperlakukanmu dengan berusaha menjadi kekasih yang hebat?

Bagaimana rasanya berkata 'aku sudah menyayangi dia' setelah pernah mengatakan 'kau tidak perlu khawatir karena bagiku kau adalah segalanya' ?

Dan, bagaimana rasanya dengan mudahnya memutuskan berpisah setelah pernah bermimpi untuk selalu bersama
Bahagia, kah?

Tentu.
Dan sepertinya kau telah mendapatkannya. Tidak peduli sedalam apa melukai, tidak peduli sehebat apa mengingkari, tidak peduli semenyakitkan apa meninggalkanku sendiri, kebahagiaanmu adalah yang paling utama kau tuju.
Benar, bukan? 

Aku mengira, segala yang pernah kau ucap dan kau perbuat adalah bukti tulusnya engkau menyayangiku. Entahlah, entah kamu yang terlalu berbakat atau aku yang bodohnya kelewat hebat.
Nyatanya kau datang hanya sesaat setelah aku berpikir kaulah orang yang tepat.

Nyatanya kau datang hanya sekedar mampir setelah aku percaya rasa sayangku sedang deras-derasnya mengalir.
Jadi bagaimana?
Bagaimana caranya membuatmu mengerti bahwa kau sedang menyakiti? Pernahkah kamu berpikir bagaimana rasanya jadi aku?

Ah, rasanya kau juga tidak akan peduli. Sebab yang kau tahu kau harus bahagia.
Lantas bagaimana?

Sudah.
Selamat berbahagia.

Selamat berbahagia, untukmu yang dengan bahagia melepasku begitu saja
Aku mencintaimu, dan aku kehilanganmu

Cinta yang rumit-cinta yang salah

Mengapa cinta ini begitu rumit , apakah aku mencintai orang yang salah? Atau  aku yang salah karena mencintai dia?

 Aku sudah tau kalau dia itu begitu suka plin plan dalam memilih, dulu aku pernah di kecewakan, dan bodoh nya aku jatuh lagi ke lubang yang sama

Aku sudah tau dari awal aku dijadikan pelarian saja, bukan salah dia tapi salahku karena memaksakan ingin dengan dia, terima kasih sudah membalas cinta ini meski hanya pura pura

  Jika ada penghapus perasaan aku akan menghapus perasaan ini sebersih bersihnya, namun semakin aku ingin lupa dengan dia ingin menghilangkan rasa cinta ini semakin dalam perasaan ini.

 Ya Allah hilangkan perasaan ini hilangkan perasaan ini kepadanya karena hanya akan menyakiti batin saja, dan terus dikecewakan.

 Dan untuknya terimakasih semuanya, aku tidak akan dendam, tetapi akan slalu ingat dengan semua perbuatan yang dia lakukan

 Dan untuk temanku maaf karena pernah berniat merebutnya dari genggamanmu

Kamis, 25 April 2019

CURHATAN HATI BLOGSPOT

Tuhan, Bila Cinta Ini Memang Tak Bisa Kau Satukan, Mengapa Perasaan Ini Masih Kau Biarkan Bersemayam?






Lagi dan lagi, izinkan saya untuk mengadu kepadamu, Tuhan. Hanya kepadamu saya bisa mengadu tanpa perlu malu atau takut dicerca. Hanya kepadamu, saya bisa mencurahkan segala kegelisahan hati yang semakin menggigit ini. Saya tidak tahu solusinya, dan sebagai pencipta segalanya, saya yakin Tuhan punya solusinya.

Tuhanku, betapa rumitnya sebuah rasa yang bernama cinta. Ataukah sebenarnya kami saja, sebagai manusia, yang piawai merumitkan segalanya? Mengenai cinta, begitu banyak hal yang tidak saya pahami, ya Tuhan. Kegelisahan ini sudah menghantui saya sejak lama. Kegelisahan yang membuat saya merasa tak nyaman untuk melangkah, sebab apa yang tertinggal di belakang senantiasa mengikuti jejak saya. Oh Tuhan, bila memang saya dan dia tidak bisa bersama, mengapa begitu sulitnya untuk saya merelakan semua?

Sudah sekian lama, sudah banyak pelipur lara yang saya punya – tapi mengapa rasa ini tak pergi juga?





setelah sekian lama, mengapa rasa ini masih sama?
setelah sekian lama, mengapa rasa ini masih sama? via saltspringcentre.com
Advertisement





meski tahu segalanya sudah berlalu, rasa itu sulit sekali dihapuskan
meski tahu segalanya sudah berlalu, rasa itu sulit sekali dihapuskan via fairyonme.tumblr.com
Saya tahu bahwa segalanya kini telah berbeda. Apa yang saya kenang-kenang adalah bagian dari pikiran tentang masa lalu yang tak mungkin terulang. Saya juga tidak sedang menipu diri sendiri, segalanya hanya mimpi, dan saat ini dia masih berada di sisi saya. Bahwa kami masih menjalin cinta dengan sejuta bahagia. Saya tahu segalanya sudah berakhir. Saya juga tahu, bahwa saat ini, sama seperti dirinya, saya seharusnya juga mulai beranjak membuka lembaran baru.
Tapi Tuhan, mengapa menerima keadaan sebegini sulitnya?

Tapi Tuhan, kini saya mengerti. Bagian terberat dari mencintai seseorang adalah melupakan dia yang pernah ada di sisi.





mengapa menerima keadaan begitu sulitnya?
mengapa menerima keadaan begitu sulitnya? via linkis.com
Advertisement
Berkali-kali saya sempat membaca sebuah pendatan. Bahwa kita hanya membutuhkan waktu dua menit untuk jatuh cinta, tapi barangkali kita membutuhkan waktu seumur hidup untuk melupakannya. Hingga saat ini saya mengalaminya sendiri, saya tak pernah percaya. Saya pikir, jika saya sudah menerima kenyataan bahwa kami sudah berpisah, lantas logika saya akan membuat saya otomatis melupakan dirinya. Tapi Tuhan, kini saya benar-benar paham, bahwa bagian paling sulit dari mencintai seseorang adalah melupakannya.
Tuhan, mengapa logika dan hati manusia sering tak sejalan?

Percuma saya mengatakan pada dunia bahwa rasa itu sudah hilang. Tapi sejauh apapun saya ingkar, toh namanya yang masih bertahta dalam ingatan.





tangan ini masih selalu menuliskan namanya
tangan ini masih selalu menuliskan namanya via www.bergamosera.com
ADVERTISEMENT
Saat orang-orang di sekitar saya bertanya, saya akan menjawab dengan senyuman lebar dan kalimat aku baik-baik saja. Saya bisa saja mendeklarasikan kepada dunia bahwa yang telah lalu biarkanlah berlalu. Saya bisa saja mengutip-ngutip quote entah siapa yang mengisyaratkan bahwa melupakan bukan hal yang mustahil. Saya juga bisa saja menyanyikan lagu-lagu tentang membuka lembaran baru untuk meyakinkan mereka bahwa saya sudah lama melupakan dia.
Bahkan, saya juga bisa berpura-pura membuka hati untuk orang lain dan hubungan lain untuk menunjukkan padanya bahwa bukan hanya dia yang bisa membuka lembaran baru. Tapi bagaimana ini, Tuhan? Sejauh apapun saya ingkar, perasaan ini tak bisa dikelabuhi. Hingga saat ini, dia masih satu-satunya orang yang saya inginkan.

Katanya, melihat orang yang dicintai bahagia juga akan membuat kita bahagia. Mungkin benar, tapi dibalik bahagia itu kesedihan tetap ada.





bahagia dan sakit datang bersama saat melihatnya bahagia
bahagia dan sakit datang bersama saat melihatnya bahagia via www.gurl.com
Lagu-lagu romantis yang sering saya dengarkan di radio dan music player itu memberitahu saya bahwa cinta tak harus memiliki. Bahwa kebahagiaan terbesar orang mencintai adalah saat melihat orang yang dicintainya berbahagia. Sungguh, saya bahagia melihatnya tertawa. Senyumnya, entah bagaimana memberikan efek tenang dalam diri saya, membuat saya berpikir dia baik-baik saja.
Tak ada yang tahu bagaimana saya lega setiap kali melihatnya baik-baik saja. Tapi saya juga tidak akan berbohong lagi. Saya bahagia jika dia memang sudah memiliki orang lain yang bisa membuatnya tertawa, tapi rasa sakit itu juga tetap ada. Rasa pedih di hati saya memang tak pernah terlihat oleh dunia. Tapi apakah mencintai seseorang harus sebegini sakitnya?

Bukan saya ingin atau sengaja menyiksa diri. Tapi Tuhan, bagaimana caranya mengendalikan rasa yang begitu kuat ini?





lagu-lagu cinta ini masih tertuju kepadanya
lagu-lagu cinta ini masih tertuju kepadanya via nothingmega.tumblr.com
Sekali lagi, saya bukannya sedang menipu diri sendiri. Apalagi menyiksa diri sendiri. Jika Engkau bertanya, apa yang saya inginkan, pastinya saya ingin melupakannya, Tuhan. Saya sudah lelah dengan segala pengharapan dan rindu yang tak ada obatnya ini. Saya juga bukannya tidak pernah berusaha. Sudah jauh kaki ini melangkah, menemui orang-orang baru, dan mencoba membuka lembaran-lembaran baru. Tapi tetap saja, kenangan itu selalu berpulang kepadanya.
Saya tahu saya tidak boleh menghidupi kenangan. Saya tahu bahwa kenangan harus tetap menjadi kenangan, tidak boleh diubah menjadi harapan. Sungguh, saya ingin melupakannya. Tapi rasa ini tumbuh seperti sel kanker yang tak bisa saya kendalikan. Tuhanku, mohon ajari saya cara untuk melupakan.

Mengapa hati manusia tak bisa terprogram seperti komputer, yang bisa dengan mudah menghapus semua kenangan dengan satu kali memencet tombol saja?





betapa mudahnya jika kenangan bisa di-delete dari kehidupan
betapa mudahnya jika kenangan bisa di-delete dari kehidupan via ig3.trendinonline.com
Saat menulis ini, saya sedang menghadap layar computer. Terkadang terbersit pertanyaan dalam benak saya. Mengapa manusia sedemikian rumitnya, Tuhan? Mengapa perkara hati selalu menjadi hal yang tak bisa saya pecahkan? Mengapa hati dan logika seringkali tak bisa sejalan? Mengapa otak manusia tidak didesain seperti komputer saja? Di komputer, saya bisa memilih dan memilah data mana yang saya butuhkan dan mana yang harus saya buang. Hanya dengan menekan ctrl+del saya bisa menghapus memori-memori tak bermanfaat yang memberatkan komputer saya. Mengapa pikiran saya tak bisa demikian?
Maafkan saya yang terburu-buru menyampaikan semua ini. Barangkali terkesan ada kemarahan dalam curahan hati saya, tapi sungguh itu semata-mata ungkapan kegelisahan yang selama ini memberati hidup saya. Di akhir keluh kesah ini, saya tahu bahwa mencintainya adalah hal yang sia-sia.
Mencintainya hanya akan membuat saya tenggelam dalam kesedihan yang tak akan membawa saya ke mana-mana. Tapi Tuhan, salahkah saya bila masih memelihara rasa yang seharusnya sudah tak ada?
Sebab, barangkali sebagai manusia saya begitu lemahnya, sehingga tak bisa mengendalikan rasa. Karena itulah di sini saya mengadu. Saya bertanya. Dan saya memohon petunjukmu. Sebab hanya Engkau yang tahu ada apa di masa depan, Tuhan. Hingga saat ini, mohon maafkan saya jika berulang-ulang bertanya: jika memang kamu tak bisa Kau satukan, mengapa rasa ini masih Engkau biarkan bersemayam?